Kategori: Buletin

21/10/2017

Bulan Safar menjadi salah satu bulan Allah yang mulia dimana Allah SWT menurunkan banyak bala dan juga cobaan serta musibah pada bumi. Akan tetapi, beberapa musibah tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan qadha dan qadar dari Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW memberi penjelasan tentang umat yang tidak diperbolehkan untuk percaya pada sebuah penyakit bisa menular karena penyakit itu sendiri, namun penyakit yang menular tidak lain karena kehendak Allah SWT dan juga Qadah serta Qadarn-nya.

Dari AbuHurairah RA dari Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya beliau bersabda:”Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Safhar”, kemudian seorang badui Arab berkata: “Wahai Rasulullah SAW, onta-onta yang ada di padang pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh Seekor onta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor onta betina yang berkudis tersebut ?”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapakah yang membuat onta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?“. HR Buhari dan Muslim. Semua kesialan yang diterima tidak ada hubungannya dengan hari, tanggal atau bulan seperti pada bulan Safar dan ada banyak keutamaan bulan Safar menurut Islam dan sunnah seperti yang kami berikan pada kesempatan kali ini.

  • Memperlihatkan Pembersihan Allah SWT Dari Kekurangan
    Ini merupakan makna tasbih yang dilakukan langit dan juga bumi serta seluruh makhluk sebab segala sesuatu bertasbih dengan memuji-Nya, “Subhaanaka” “Maha Suci Engkau”.
  • Mengakui Dosa Yang Sudah Dilakukan
    Memperlihatkan pengakuan atas dosa yang sudah dilakukan. Tidak menjalankan hak Rabbnya dengan sempurna serta menzhalimi diri sendiri karena sikapnya itu. “Inni kuntu mina al- zhaalimiin” “Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” Ungkapan ini adalah sebuah pengakuan tanda taubat. Sangat penting mengetahui Dosa yang Tak Terampuni Oleh Allah SWT, seperti Dosa Meninggalkan Shalat 5 waktu dan juga Dosa Besar dalam Islam. Sehingga kamu bisa mengamalkan Amalan Penghapus Dosa Besar sehingga bisa meringangkan amal buruk saat diperhitungan di akhirat nanti.
  • Tauhid Disertai Dengan Tasbih dan Taubat
    Tauhid yang dilakukan dengan disertai tasbih dan juga taubat seperti melaksanakan shalat taubat juga dilakukan supaya Allah SWT memberikan perlindungan bagi hamba-Nya dari segala macam marabahaya, kesulitan dan juga penderitaan. “Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al Anbiya: 88)
  • Meningkatkan Taqwa dan Tawakkal Pada Allah SWT
    Taqwa dan tawakkal juga harus dengan sadar betul jika segala sesuatu bisa terjadi atas kehendak Allah SWT sekaligus memperoleh manfaat tawakal lainnya, maka ketaqwaan juga semakin meningkat dan semakin rajin untuk beribadah seperti melaksanakan shalat wajib dan shalat fardhu dengan tujuan supaya bisa mendapat ridha dari Allah SWT.
  • Menghindari Hal Yang Bertentangan Dengan Ketauhidan
    Keutamaan lain dari bulan Safar adalah menghindari dari berbagai hal yang sudah bertentangan dengan ketauhidan. Dengan itu, kita mengetahui jika hari Rabu terakhir di bulan Safar merupakan hari dimana Allah SWT banyak menurunkan musibah. Akan tetapi, ini tidak berarti jika segala sesuatu yang sudah kita niatkan pada hari tersebut dan lalu dibatalkan maka terjadi karena musibah tetapi terjadi karena niat untuk ibadah atau penyebab lain yang menjadi penyebab amal ibadah ditolak dalam islam.
  • Meyakini Ketetapan Allah SWT
    Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ’Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51).
  • Memperkuat Iman
    Bulan Safar seperti halnya beberapa bulan yang lain dan sudah diberikan oleh Allah SWT bisa digunakan untuk melakukan banyak perbuatan amal serta ibadah yang sangat bermanfaat dan tidak mempercayai jika bulan Safar adalah bulan sial sebab semuanya hanya bisa terjadi atas izin dan kehendak Allah SWT. Perbuatan amal serta ibadah juga menjadi cara meningkatkan iman dan takwa sebagai umat muslim. “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus : 107).
  • Menunjukkan Atas Tauhid
    Ilmu Tauhid Islam yaitu Tauhid uluhiyah yang dengannya Allah SWT mengutus Rasul, menurunkan kitab kitab dan berdiri surga serta neraka. “La Ilaha Illa Anta” “Tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau”.
  • Berdoa Sesuai Ajaran Rasulullah SAW
    “Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu”, beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian mengucapkan: “Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka” (Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu).” HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1065. Banyak doa yang bisa dipanjatkan seperti Doa di Pagi Hari dalam Islam, Doa Agar Dipermudah Segala Urusan, Doa Agar Dimudahkan Rezeki, Doa Untuk Mendapat Keturunan juga Doa untuk mendapatkan Jodoh dalam Islam agar membantu anda menjalani kehidupan di dunia dan mendapatkan pahala di akhirat nanti.
  • Menumbuhkan Prasangka Baik dan Optimis
    “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada thiyarah, dan sebaik-baiknya perasaan itu adalah Al fa’lu”, para sahabat bertanya: “Apakah itu al fa’lu?”, beliau bersabda: “Perkataan yang baik yang didengarkan oleh salah seorang dari kalian.” HR. Bukhari. “Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘Adwa, thiyarah dan aku kagum dengan Al Fa’lu Ash Shalih, yaitu perkataan baik.” HR. Bukhari.
  • Menyandarkan Diri Pada Allah SWT
    “Dan tidak ada diantara kita melainkan (akan timbul perasaan itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal (bersandar kepada-Nya).” HR. Abu Daud. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menyatakan jika perasaan memiliki nasib sial akan hilang dengan sendirinya apabila kita bersandar sepenuhnya pada Allah SWT ditambah juga dengan doa untuk menghadapi ujian.
  • Mempertebal Keimanan
    Dalam bulan safar, kita akan memandang banyak keajaiban yang sudah diciptakan Allah SWT yang bisa dijadikan sebagai sarana mempertebal iman terhadap kebesaran Allah sehingga menjadikan kita sebagai manusia yang lebih bersyukur kepada-Nya yang tidak hanya bisa dilakukan pada beberapa bulan lainnya.
  • Menuai Pahala
    Amalan ibadah yang tidak dilakukan karena Safar akan dicatat meskipun tidak dilakukan. Nabis SAW bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka ditulis seperti apa yang ia lakukan dalam muqim dan sehat. (H.R. Bukhori no .2996).
  • Terkabulnya Doa Yang Dipanjatkan
    Rasulullah SAW bersabda, “Tiga do’a yang terkabulkan tanpa diragukan; do’a orang tua, do’a orang yang bepergian, dan do’a orang yang terzhalimi.(H.R Tirmidzi no.1905, Abu dawud 1536, dan dihasankan al-Albani.) Al-Hafizh ibnu rajab rahimahullah berkata, “Bertambah lamanya suatu safar akan lebih menjadikan sebuah do’a terkabulkan, karena hati saat itu rendah disebabkan keasingan diri dari kampung halamannya, sedangkan kerendahan diri dan menanggung beban merupakan sebab terkabulkannya do’a.” (jami’ul ‘Ulum walhikam 1/269).
  • Perbanyak Bacaan Alquran
    Membaca Alquran menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, mencari pahala lebih mudah, menjauhkan diri dari bahaya dan berbagai manfaat lainnya. Membaca Alquran juga harus dilakukan pada bulan Safar untuk menjauhkan diri dari segala macam bahaya sekaligus mendekatkan diri pada Allah SWT dan cara bersyukur menurut Islam yang baik. “baca dan naiklah, serta tartilkan sebagaimana engkau telah mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad) Tidak terdapat amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk bisa dirayakan pada bulan Safar baik itu dalam ayat-ayat Al-Quran, sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam, sahabat maupun para salafushshalihin. Amalan di bulan Safar sama halnya dengan amalan harian yang juga diamalkan pada bulan lainnya. Sedangkan kepercayaan tentang masalah sial atau bala merupakan kepercayaan dari orang jahiliyyah sebelum Islam datang seperti contohnya mandi di sungai atau di pantai pada bulan Safar yang berkaitan dengan kepercayaan nenek moyang terdahulu dan juga berkaitan dengan upacara keagamaan Hindu. “Tiada wabah dan tiada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa.” (HR. Bukhari)

 

Demikian beberapa keutamaan bulan safar yang bisa diamalkan umat Islam semoga bermanfaat.


bulan-safar

Posted in Buletin, Front
26/08/2017

Memasuki bulan Dzulhijjah ini kami ingin berbagi pengetahuan sedikit  seputar berkurban yang dapat dilaksanakan pada tanggal 10,11,12 dan 13 Dzulhijjah disetiap tahunnya.

Seseorang yang hendak berkurban dilarang untuk memotong kuku dan rambut ketika sudah memasuki tanggal 1 Dzulhijjah sampai hewan kurbannya disembelih. Dalilnya hadis dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

 

”Barangsiapa yang telah memiliki hewan yang hendak diqurbankan, apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, maka janganlah dia memotong sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya hingga dia selesai menyembelih.” (HR. Muslim 5236, Abu Daud 2793, dan yang lainnya).

 

Penjelasan:

Rambut dan kuku yang dilarang untuk dipotong dalam hadis tersebut  adalah rambut dan kuku shohibul kurban, bukan rambut dan kuku hewan kurban. karena kata ganti yang digunakan dalam kalimat ‘شَعْرِهِ’ dan ‘أَظْفَارِهِ’ adalah kata ganti tunggal untuk jenis mudzakar (laki-laki), yaitu kata ganti ‘هـ’. dan ini adalah kata ganti yang kembali kepada pemillik hewan bukan hewannya.

Larangan tersebut berlaku untuk memotong dengan cara apapun dan untuk bagian kuku dan rambut manapun. Artinya mencakup larangan mencukur gundul atau mencukur sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (Shahih Fiqih Sunnah, 2/376).

 

 


hewan-kurban

Posted in Buletin, Front
29/07/2017

Dzulqa’dah merupakan bulan ke sebelas dalam penanggalan Islam. Secara bahasa dzulqa’dah berarti “penguasa genjatan senjata”, karena pada saat itu bangsa Arab dilarang melakukan peperangan. Di antara keutamaan bulan Dzulqa’dah ialah termasuk di antara bulan-bulan haji.

Allah berfirman didalam surah Attaubah ayat 36 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ -٣٦-

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah Adalah dua belas bulan, di dalam Kitab Allah, pada hari Dia Menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah perhitungan yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri sendiri padanya, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah Beserta orang-orang yang bertakwa. Ina ‘iddatasy syuhūri ‘iηdallāhi (sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah), yakni menghitung tahun dengan jumlah bulan adalah dari sisi Allah, dan pada bulan-bulan itu pula zakat dibayarkan. Itsnā ‘asyara syahraη fī kitābillāhi (adalah dua belas bulan, di dalam kitab Allah), yakni di Lauhul Mahfuzh. Yauma (pada hari), yakni sejak hari. Khalaqas samāwāti wal ardla minhā (Dia Menciptakan langit dan bumi, di antaranya), yakni di antara bulan-bulan itu terdapat …. Arba‘atun hurum (empat bulan haram), yaitu Rajab, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Dzālikad dīnul qayyimu (itulah perhitungan yang lurus), yakni hisab yang benar, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Fa lā tazhlimū (maka janganlah kalian menzalimi), yakni janganlah kalian memudaratkan. Fīhinna (padanya), yakni bulan-bulan itu. Aηfusakum (diri sendiri) dengan melakukan kemaksiatan. Menurut pendapat yang lain, yakni pada empat bulan yang haram itu. Wa qātilul musyrikīna kāffatan (dan perangilah kaum musyrikin semuanya), yakni seluruhnya, baik di daerah halal ataupun di daerah haram. Kamā yuqātilūnakum kāffah (sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya). Wa‘ lamū (dan ketahuilah), wahai segenap kaum Mukminin. Annallāha ma‘al muttaqīn (bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa), yakni beserta orang-orang yang menjauhi kekufuran, kemusyrikan, perbuatan keji, melanggar perjanjian, dan peperangan pada bulan-bulan haram.

 

Oleh : Ustadz Ismail RSI

bulan-dzulqadah

 

Posted in Buletin, Front
24/06/2017

Takbir I

اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ, اللهُ أكْبَرُ
لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ
اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

“Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar,
Laa illaa haillallah-huwaallaahuakbar
Allaahu akbar walillaahil hamd’.”
Artinya :
Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar, Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.


Takbir II

اللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا
وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا.
.لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن,
وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن
لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه,
لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر,
اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْد

” Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,
Wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiillaa.
Laa ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiin,
Walau karihal kaafiruun, walau karihal musyrikun, walau karihal munafiqun.
Laa ilaaha illallaahu wahdah, shodaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wa a’azza jundahu wahazamal ahzaaba wahdah.
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil hamd.”

Artinya:
Allah maha besar dan juga sempurna kebesaran-Nya, Segala puji bagi-Nya dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada yang kami sembah selain kepada-Nya, Kami memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, musrik, dan munafiq membencinya. Tiada Tuhan selain Allah dengan ke-esaan-Nya. Dia Maha menepati janji. Dan menolong hamba-hamba-Nya, Memuliakan bala tentara-Nya dan menghancurkan musuh-musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah. Dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan Segala Puji hanya bagi Allah.


shakelv

Posted in Buletin, Front